Rabu, 21 April 2010

Tujuh Belas Pelangi, bulan Kartini



Ketika kubuka lagi album itu, benar, semua terserak adanya.
Dengan indah.
Tak kusangka 17 april itu sangat bermakna.

Celotehan mereka membangkitkan semua aura di ruangan 3 x 3 meter itu.
Hmm...rasanya semangat di diri ini muncul begitu saja, meskipun tak seketika itu jua kurasa
Biarlah, biar kubiarkan dulu mereka yang bersemangat menggebu2 bahagia, ntar saja, nanti malam mungkin, atau esok pagi, semuanya akan menular kepadaku.


Yeah,, kuyakin itu


Sebentar tadi, ketika kubuka lagi semua album itu.
Album putih abu- abu sampai saat ini, hanya satu yang kurasa.


B a h a g i a.
Yap, aku bahagia karna pernah menjadi bagian dari mereka. Sampai saat ini pun begitu.
Semua diskusi, tertawaan, motivasi dan sindiran kecil bercampur dalam satu rasa.


Bangga.
Ya, kami bangga menjadi bagian dari buhul yang kuat itu.
Entahlah, entah siapa dulu yang memulainya.
Yang pasti, syukur tak hingga karna ukhuwah itu sampai kini masih terasa. Moga- moga nanti begitu jua.



Untuk sembilan dan buhul yang kuat, syukron katsir untuk semuanya...
Semoga kelak kita dipertemukan di syurgaNya

Penantian 25 desember 2015. Akan jadi apa jadinya?

Rabu, 31 Maret 2010

Damainya dini hari



Pukul 01.19 WIB pagi ini, saya terbangun. Berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan dan menunggu kesadaran semua diri ini pulih. Ketika saya melihat hp, ternyata ada dua sms masuk. Jam berapa sekarang? Oh..ternyata masih jam segini.

Berusaha untuk tidak bermalas- malasan, saya bangun dari tempat tidur dan melangkahkan kaki ke kamar mandi. Setelah bersih- bersih dan berwudhu’, saya kembali ke kamar (ni kesannya kamar mandinya jauh amat, padahal di dalam kamar :p ), menggelar sajadah dan shalat malam.

Hm..masih ada yang bangun tidak ya? Fikiranku bertanya. Sebelum ke kamar mandi tadi saya keluar kamar untuk mengambil piring. Yap, malam ini saya belum makan, sore tadi jam setengah 5 saya makan untuk dua waktu, pagi dan siang. Karena tak mau membuat lambung saya tak bekerja memompa sari makanan yang ada (juga teringat ayah yang menasihatiku berulang kali agar makan tepat waktu), akhirnya saya menanak nasi.

Ternyata salah satu mb di kosanku malah mau makan, sekilas tadi saya mendengar ada bunyi kompor diputar di dapur. Hmm..sudah terlelapkah semua orang di kosan? Sunyi sekali terasa, meskipun memang inilah yang saya suka.

Keheningan malam. Seakan- akan saya merasakan semesta ini absen sejenak dari tugasnya dan beralih untuk khusyuk beribadah pada-Nya. Tak ada bunyi apapun yang saya dengar, pun jangkrik atau tikus yang mencicit :p

Setelah shalat malam saya melanjutkan dengan tadarrus, hh...hari ni sepertinya masih kurang interaksi saya dengan al- Qur’an. Dengan suara yang dilamatkan dan hanya saya yang bisa mendengar, saya ngaji sambil tak lupa menerapkan pelajaran tahsin yang saya dapatkan ^^

Trek! Nasi sudah masak. Segera saya pindahkan ke piring dan menyebarkannya ke seluruh bagian piring yang ada biar tidak terlalu panas. Sudah hampir jam dua saja.

Duhai, tenang nian malam ini. Meskipun satu dua motor lewat di depan kosan, namun tidak membuat suasana hati saya terusik. Saya sangat suka keadaan seperti ini. Jauh dari keributan, canda tawa yang membuat diri ini bisa lupa dari-Nya, dari pengawasan-Nya.

Dua lewat tiga lima pagi. Saya masih di sini, menulis, merasakan betapa bersyukurnya saya kali ini, masih diberi kesempatan oleh- Nya untuk bernafas, masih diberi kesempatan untuk belajar, berusaha menjadi kakak yang baik bagi adik- adik saya (meskipun sayalah yang sering kali diingatkan oleh adik. Hiks, kangen mereka), bisa diberikan kenikmatan berupa rasa syukur ini, ketenangan ini dan berharap kelak, rasa ini kan tetap ada walau badai tugas menghadang (halah!), walau masalah menimpa, walau hari hujan, nasi uduk di kober tak jualan (apa sih? )

Terakhir, mau nulis sms tausiyah yang kudapat malam kemarin. Dari sekian sms tausiyah, inilah yang paling saya suka. Entah mengapa, sepertiny memberikan energi tersendiri bagi saya (mungkin juga karena pas bacanya saya baru bangun tidur :-) )

“Seseorang yang mengenal Allah SWT, berarti ia mengetahui ke Maha Besaran-Nya, juga mengetahui kekerdilan dirinya, kelemahan dirinya, ketergantungan dirinya pada Yang Maha Kuasa. Mereka tidak takut, tidak lemah dan tidak tergantung pada siapapun kecuali Allah dan selama berada di jalan Allah. Tidak senang, tidak gembira dan tidak bersukacita kecuali bersama Allah”

Terasa betul bahwa diri ini tak ada apa- apanya...




Rabu, 13 Januari 2010

kaget dengan perubahan?

Tiba- tiba saja ingin ngepost tulisan ini. Hmm.. semalam, atau lusa ya? Saya di-invite oleh salah seorang teman sd saya dulu untuk join di grup sd kami di fb. Senang, tentu saja, ditambah dengan keingintahuan mengetahui keadaan teman- teman yang sudah lama tak saya lihat ( saya sekolah di sana selama 10 tahun, dari TK sampai SMP di tempat yang sama)


Mulanya baru 20-an teman yang join. Iseng- iseng, saya melihat semua fb teman- teman. Senang tentu saja, dan alhamdulillah masih ingat sama 95% teman- teman di sana.

Dan yang ingin saya sampaikan adalah, ternyata tak ada yang tetap di dunia ini. Tak ada yang abadi di dunia ini. Dan setuju sekali dengan istilah "yang tetap adalah perubahan itu sendiri".


Sisi melankolis itu kembali datang. Mengapa begitu? Ada yang salah?

Intinya adalah..
Mencoba syukuri apa yang ada
Terima apa yang kudapat
Jangan bertanya mengapa itu terjadi?
Jaga saja semua ini dengan syukur
Yap! bersyukurlah agar kau bahagia...

yang terpenting dari semuanya adalah, sepertinya tulisanku ini membingungkan diriku sendiri.. ^^

Kamis, 07 Januari 2010

malam

keheningan 11:05 pm
ehem
bukan, jiwakulah yang terdiam
terhentak dan tertawa

sudah ketinggalan rupanya

Selasa, 05 Januari 2010

cerpen tak usai

hari ini selasa, tak ada bedanya dengan kemarin, bahkan lusa, bahkan lusanya lusa, sama saja, atau mungkin besok akan berubah, entahlah..

gadis kecil itu menghembuskan nafasnya yang sesak. hh..entah kapan jakarta bisa berubah, bisanya membuat paru- parunya semakin kucel dan kumal. haha, luar dalam sama saja, mungkin sebentar lagi ia juga akan mati. sinis hatinya berkata

dia dipanggil gadis kecil bukan karna dirinya yang baru mengenal dunia, bukan, memang begitulah orang- orang memanggilnya, gadis kecil, karna tubuhnya yang mungil dan lincah, seperti belut saja. terlahir sebagai yatim piatu, yah.. seperti cerita kebanyakan, dia pun dibesarkan di panti asuhan, sehari2nya mencari makan dengan mengamen. hah... hidup memang membosankan katanya..

====================================================================

akbar menghembuskan nafasnya berkali- kali. B? cuma B? kok bisa?
hey, bangun bung! bukankah selama ini kerjamu hanya bermalas- malasan saja? sudah syukur masuk ke universitas ternama di negerimu. Hatiku memberontak.

Yah.. memang benar sih, seorang akbar adalah siswa pintar yang pemalas, tapi kenapa B? hh..lagi- lagi

Ketika melihat nilainya di situs mahasiswa universitasnya, lagi2 dia menemui huruf itu, dua buah lagi, seperti menertawakan bahwa memang begitulah usahanya selama ini.
Oke, aku terima, kalau diilhat lagi, udah untung bisa dapat segitu, malahan prediksi awal salah satu mata kuliah itu dia tak akan lulus. Alhamdulillah deh, akhirnya ia bersyukur juga ( meskipun untuk menenangkan hatinya yang terluka, halah!)

semoga disambung..


Senin, 04 Januari 2010

mula

di tengah liburan semester, daripada bosan sendiri, lebih baik nge-reparasi blog ini, :)
assalamu'alaykum, akhirnya blog ini keisi (lagi) juga


dan... bismillah!